Bakti ORARI sebagai Layanan Komunikasi Negeri

ORARI Kabupaten Pekalongan sudah sejak lama bersinergi dengan pemerintah daerah sebagai sarana informasi masyarakat. PEKALONGANKAB.GO.ID

Komunikasi dan teknologi memiliki peranan yang besar dalam perkembangan sejarah di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana peranan media cetak maupun elektronik khususnya radio dalam penyebaran informasi pada masa awal kemerdekaan indonesia, adanya radio pada masa itu sangat diandalkan masyarakat dalam memperoleh informasi yang beredar.

Radio pada masa itu tidak hanya digunakan sebagai hiburan masyarakat semata, namun juga sebagai alat komunikasi antar individu yang digunakan untuk saling bertukar informasi. Ada dua jenis radio yang harus kita pahami, radio sebagai hiburan atau radio siaran seperti Radio Republik Indonesia (RRI), atau pun radio-radio milik swasta. Dan juga radio sebagai alat komunikasi antar individu yang disebut sebagai radio amatir.

Pada masa perkembangannya, radio amatir merupakan seperangkat alat pemancar geombang radio yang hanya digunakan oleh masing-masing individu untuk berkomunikasi satu sama lain. Radio amatir tidak menyajikan obrolan untuk kepentingan hiburan, sandiwara, dan juga tidak memutar musik, melainkan hanya percakapan saja.

Kegiatan ini juga dilakukan semata-mata dilakukan sebatas hobi oleh mereka yang mempunyai bakat radio amatir yang biasa disebut amatir radio. Amatir radio adalah setiap orang yang diberi izin karena berminat dalam teknik radio dengan tujuan pribadi tanpa memikirkan keuntungan pribadi.

Tetapi pada kemudian, kegiatan ini dilarang pada masa kemerdekaan karena pada tahun 1942 jepang sangat berkuasa sehingga kegiatan ini dianggap membahayakan posisi jepang. Karena pada masa penjajahan Jepang, para pemuda Indonesia dilatih untuk bisa memiliki skill sebagai seorang amatir radio, sekolah ini disebut ‘Suara Tanpa Kawat’. Sehingga sudah jelas, bahwa kegiatan amatir radio ini sudah ada sebelum kemerdekaan.

Pada masa peralihan rezim dari orde lama ke orde baru terjadi perubahan masyarakat akibat situasi politik dan pelarangan kegiatan komunikasi radio oleh pemerintah, karena pada saat itu banyak masyarakat yang menggunakan frekuensi dan pemancar radio secara ilegal sehingga mengganggu siaran radio nasional.

Hal tersebut membuat pemerintah pada waktu itu mempertimbangkan keberadaan kegiatan ini. Kegiatan amatir radio ini kemudian diatur dalam undang-undang No: 21 tahun 1967 tentang kegiatan amatir radio di Indonesia. Undang-undang itu mengatur bahwa setiap amatir radio harus tergabung dalam organisasi legal agar lebih tertib penggunaannya.

Atas dasar itu kemudian pada tanggal 9 Juli 1968 di lingkungan Sekretariat Negara diadakan pertemuan yang dihadiri oleh para pemimpin perhimpunan Amatir Radio dan sejumlah calon anggota yang berdomisili terutama di Pulau Jawa.

Mereka berkumpul dan sepakat untuk melebur dalam sebuah wadah tunggal yang disebut sebagai Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI). Pada awalnya ORARI hanya mencakup pulau Jawa yang terdiri atas 4 Region yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Sejak resmi berdiri menjadi organisasi, ORARI telah membaktikan diri dalam bidang layanan komunikasi kepada bangsa, baik sebagai media perjuangan mempersiapkan dan merebut serta mengisi kemerdekaan, maupun memberikan kontribusi pemikiran serta gagasan baik yang bersifat teknik maupun regulasi dan melakukan operasi penanggulangan bencana serta dukungan komunikasi bukan dalam keadaan bencana.

Sinergi ORARI Pekalongan dengan Pemda Setempat

Di Kabupaten Pekalongan, Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) sudah ada sejak dulu, dan telah bersinergi dengan pemerintah daerah. Anggota ORARI ini biasanya akan membantu berkomunikasi dengan pemerintah pada kegiatan pengamanan di lapangan, seperti pada saat Natal, Idul Fitri, terlebih pada saat terjadi bencana alam.

Pada saat situasi bencana, biasanya akan menyebabkan arus informasi menjadi terputus, sehingga bantuan anggota amatir radio sangat dibutuhkan untuk membackup jaringan komunikasinya. Anggota amatir radio ini kemudian akan memberikan gambaran situasi bencana di lapangan, sehingga dapat memudahkan petugas lainnya.

Saat ini anggota organisasi amatir radio di pekalongan baru berjumlah 45 orang. Jumlah tersebut masih terbilang sedikit, karena di Pekalongan sendiri terdapat 19 kecamatan, 13 kelurahan, dan 272 desa. Asisten 2 sekda Wahyu Kuncoro ingin Organisasi Amatir Radio Indonesia di Kabupaten Pekalongan ini bisa tersebar secara merata di 19 Kecamatan diseluruh Kabupaten Pekalongan, sehingga nantinya akan menjadi bagian jaringan informasi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Heru selaku ketua Orari Kabupaten Pekalongan mengatakan ia akan terus berupaya menggaet anggota baru agar bisa lebih maksimal dalam membantu masyarakat Pekalongan sebagai media informasi dan komunikasi.

“Jika jumlah anggota kita banyak maka akan lebih mudah dalam membantu kegiatan kemasyarakatan. Saat ini memang terkendala jumlah anggota yang terbatas,” katanya. Kegiatan-kegiatan lainnya untuk terus memperkuat sinergi dengan pemda setempat juga akan terus dilakukan, supaya berbagai program kerja Orari yang telah ditetapkan bisa berjalan dengan lancar.

Add Comment