Nostalgia Masa Kecil di Pasar Rindu Semilir

Suasana Minggu pagi di Pasar Rindu Semilir. (Foto: Ritmika Serenady)

Kajen – Dunia anak kecil selalu diwarnai kecerian. Bermain, tertawa, menghirup udara sore di kebun belakang rumah yang masih rimbun, sambil menikmati kue tradisional buatan nenek, adalah hal yang paling dirindukan.

Di wilayah Kabupaten Pekalongan, ada pasar yang menyajikan berbagai jajan tradisional, lengkap dengan wahana permainan anak-anak tempo dulu, membuat siapapun ingin bernostalgia di masa kecil. Sambil menikmati alunan tembang dan rindangnya pepohonan, makanan tradisional dari mulai gethuk sampai yang khas Pekalonganan seperti soto tauto dan pindang tetel, bisa didapatkan dengan harga merakyat.

Cara bertransaksinya pun cukup unik, yaitu menggunakan koin kayu, yang bisa didapatkan dengan menukarkan uang di bagian muka pasar. Satu keping koin kayu memiliki nilai Rp 2 ribu. Dan yang lebih menarik lagi, semua pedagang di sini menggunakan pakaian tradisional, lengkap dengan caping sebagai penutup kepala.

Pasar Rindu Semilir yang terletak di Hutan Kota Kajen ini diresmikan oleh Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, pada 7 Apil 2019 lalu. Pasar yang hanya buka saban Hari Minggu ini menawarkan kekhasan berupa jajanan atau makanan jadul di tengah hutan kota seluas hampir 1 hektare yang masih asri, sejuk, dan udaranya yang semilir.

Saat ditanya mengapa memilih Hutan Kota Kajen sebagai lokasi pasar ini, bupati mengatakan bahwa hutan yang terdapat di wilayah Kecamatan Kajen ini memiliki kekhasan tersendiri, yakni hutannya masih asri dan udaranya sangat segar.

“Ini untuk nguri-nguri jajanan tempo dulu yang dibuat oleh embah-embah kita semua. Makanan di sini terbuat dari bahan-bahan yang sangat lokal,” terang bupati.

Salah satu pengunjung dari Kecamatan Sragi, Dwi Rizka, mengaku bahwa ini kali pertama dirinya mengunjungi Pasar Rindu Semilir. Ia merasa sangat senang lantaran masih bisa menemukan jajanan tempo dulu, di mana sekarang sudah susah sekali untuk ditemui.

“Saat saya kecil, sering sekali jajan gemblong, gethuk, bubur, gulas, dan jamu. Saya juga mau beli sate towel dan kroco, karena makanan ini sudah jarang ditemui,” ungkapnya.

Bebas Sampah Plastik

Tak hanya menawarkan destinasi digital, Pasar Rindu Semilir juga mengkampanyekan kepada masyarakat untuk peduli lingkungan dan hidup sehat. Pasalnya, pembeli dan pedagang diwajibkan bebas sampah plastik. Selain itu, jenis makanan yang diperjualbelikan pun tanpa bahan kimia.

“Pasar ini konsepnya alami dan ramah lingkungan. Pasar ini juga bebas rokok. Selain itu, pedagang yang membuka stan dilarang menggunakan bahan pengawet makanan,” tutur ketua penyelenggara, Sudaryanto.

Tidak hanya itu, lanjut Sudaryanto, pasar ini juga membina masyarakat dan pelaku UMKM agar bebas selama sehari tanpa sampah plastik dan steorofon. “Kami berharap, dengan adanya pasar berkonsep bebas dari bahan plastik, masyarakat bisa terdidik untuk mengajak kebersihan, ketertiban, dan kesehatan,” tambahnya.

Add Comment