Silaturahmi dengan Komunitas, Polres Pekalongan Kota Ingin Tangkis Berita HOAX

Pemkot Pekalongan bersama Polres Pekalongan Kota mengadakan silaturahmi dengan Komunitas Netizen, Senkom, dan Komunitas Awak Media. Sumber: Humas Pemkot Pekalongan.

Dukuh – Polres Pekalongan Kota bersama Pemerintah Kota Pekalongan mengadakan Silaturahmi Bersama Komunitas Netizen, Senkom, dan Komunitas Awak Media. Tujuan silaturahmi tersebut untuk menjaga kondusifitas dan kerukunan umat beragama yang ada di Kota Pekalongan. Acara yang bertajuk Cegah dan Tangkal Berita Hoax dan Isu Radikalisme digelar di Aula Polres Pekalongan Kota, Kamis (12/12/2019).

Melihat banyaknya hoax yang tersebar tanpa filter, Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Egy Andrian Suez meminta masyarakat untuk tidak cepat percaya dan tidak asal dalam menyebarkan berita-berita yang belum diketahui kebenarannya tersebut.

“Saya minta semua kalangan untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban Kota Pekalongan, terkait berita-berita hoax dan isu radikalisme yang saat ini sudah meresahkan dan merepotkan. Yang dapat dilakukan yakni menyampaikan informasi yang kredibel dan benar kepada masyarakat. Tidak cepat mempercayai dan menyebarkan berita-berita hoax dan isu radikalisme yang disebarkan oleh oknum tak bertanggung jawab,” tandas Egy.

Dikutip dari laman resmi Pemkot Pekalongan, acara silaturahmi tersebut dihadiri oleh Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Egy Andrian Suez, Wakapolres Kompol I Wayan Tudy, Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik (PIKP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kota Pekalongan, Nurul Indrawati SH MH, Senkom Kota Pekalongan, Komunitas Awak Media, Komunitas Netizen, Komunitas pegiat media sosial, dan sebagainya ini untuk membangun kesadaran dan pemahaman terhadap bahaya hoax.

Sasar Semua Kalangan

Bersumber dari laman Kementrian Kominfo, Hilmar Farid menyatakan bahwa orang yang berpendidikan juga ikut termakan oleh hoax. Hasil penelitian yang dilakukan oleh  Kemendikbud dan Kementerian Kominfo pada tahun 2015 menyebutkan, korban berita hoax maupun SMS penipuan mayoritas adalah mereka yang baru mengenal teknologi ketika dewasa.

Andrinof Chaniago, seorang mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional pun pernah menjadi korban berita bohong. Ia percaya terkait kabar pemerintah yang semakin otoriter karena melakukan penyadapan di layanan tukar pesan hingga larangan bersuara jelek mengenai pemerintah di media sosial. Meski turut menyebar luaskan, namun Andrinof segera melakukan permintaan maaf setelah mengetahui kabar tersebut adalah bohong alias hoax.

“Banyak malah profesor dan doktor yang percaya pada kabar bohong tersebut.  Tak hanya menimpa Andrinof, beberapa kalangan berpendidikan juga ikut termakan hoax. Umumnya mereka turut menyebar hoax lewat media sosial,” ujar Hilmar Farid. Pernyataan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017 ini menunjukan banyaknya berita hoax yang bertebaran di media maya.

Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho menduga menjamurnya berita hoax diakibatkan karena adanya masalah pada budaya baca masyarakat Indonesia. “Dengan minimnya kebiasaan membaca, membuat netizen juga minim menulis. Akhirnya mereka hanya membagi (share) atau hanya meneruskan (forward) kabar saja. Nantinya akan berpengaruh terhadap generasi yang akan datang. Bonus demografi yang digadang-gadang, bisa sia-sia jika mereka percaya hoax sejak dini,” jelasnya.

Add Comment