Terbang ke Aceh, Pemkab Pekalongan Ingin UMKM Pekalongan Tembus Pasar Internasional Sabang

Bupati Pekalongan beserta jajarannya kunjungan dinas ke Banda Aceh. (Foto: Humas Pemkab Pekalongan)

Kajen – Rombongan Bupati Pekalongan disambut hangat oleh Wakil Walikota Aceh, Zaenal Arifin, dengan jamuan makan malam, Kamis (31/10/2019). Kunjungan ini dimaksudkan untuk saling belajar sektor industri dan pertukaran perdagangan prodak lokal, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Taman laut pulau di Kota Sabang merupakan destinasi unggulan setempat karena masuk dalam 9 spot terbaik snorkeling dan diving di Indonesia. Hal tersebut menjadikan Sabang sering dikunjungi turis luar negeri dan menjadi wisata internasioanal.

“Karena itu, sekarang ini kami bersama rombongan dari dinas terkait datang ke Sabang untuk belajar, bertukar fikir tentang kepariwisataan. Kemudian juga menjalin berbagai kerjasama agar produk unggulan kita, dapat menembus pasar di Sabang,” kata Asip.

Kabupaten Pekalongan dikenal dengan produk batik dan sarung, karenanya perlu adanya pengembangan terkait pemasaran sehingga perekonomian masyarakat bisa tumbuh lebih baik.

Wakil Wali Kota Sabang, Suraji Yunus menuturkan kunjungan Bupati Pekalongan juga ajang silaturahmi antar kedua pemerintahan sehingga diharapkan bisa memberi keuntungan bagi kedua daerah.

“Kerjasama perdagangan sangat memungkinkan dilakukan, baik kami mendatangkan ahli dari Pekalongan ke Sabang. Atau produk dari Pekalongan langsung bisa memenuhi pasar pariwisata kami yang menjangkau turis internasional,” jelas Suraji Yunus.

Dilansir dari lama Pemkab Pekalongan, kunjungan tersebut bertepatan dengan event Free Diving yang diikuti oleh 17 negera.

Saatnya UMKM Tembus Pasar Internasional

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 56,5 juta pelaku UKM di Indonesia namun tak sedikit yang hanya berakhir menjadi barang komoditas saja. Hal ini lantaran banyak pelaku UMKM yang belum sadar terkait branding produk.

“Jiika produk bagus dikemas tanpa merek, produk tersebut hanya akan menjadi barang komoditas. Tidak ada nilai tambah yang bisa membuat produk menjadi premium. Akibatnya omzet penjualan dan laba tidak bisa tinggi,” ungkap Suharno, Dosen Unisri Surakarta.

Pada laman resmi Kementerian Kominfo menyebutkan, survei Delloite dan Google 2015, dari 56,5 juta UMKM Indonesia yang dicatat BPS, 9% sudah jualan online. Ini berarti sudah ada yang memanfaatkan kios dan lapak-lapak gratis untuk menuju pasar internasional.

Add Comment