Penuhi Hak dan Perlindungan Anak Lewat Sekolah Ramah Anak

Walikota Pekalongan berinteraksi dengan para siswa. Sumber: DMPPA Kota Pekalongan.

Podosugih – Pelatihan Sekolah Ramah Anak Tahap II kembali digelar oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Pekalongan di Aula Gedung Kantor BKD Kota Pekalongan. Acara yang digelar di Jl. Mataram No.1, Pekalongan ini dilaksanakan selama dua hari, 6-7 November 2019.

Dilansir dari laman DMPPA Kota Pekalongan, pelatihan itu dihadiri langsung oleh Walikota Pekalongan, HM Saelany Machfudz, S. E.. Dengan narasumber Kepala Dinas Dindik Kota Pekalongan, Drs. Soeroso, M. Pd.; Kepala DPMPPA Kota Pekalongan, Sri Wahyuni, S. H.; dan dari LSM Setara, Yuli Setyanto, S. E., acara tersebut dihadiri oleh beberapa SLTP di Kota Pekalongan. SLTP tersebut yakni 17 SMP negri, 3 SMP swasta dan 1 MTS dengan masing-masing sekolah mengirimkan 3 personilnya.

Dalam pelatihan ini, peserta akan dibekali ilmu mengenai pengertian Konveksi Hak Anak,  sikap dalam pengasuhan positif Implementasi Sekolah Ramah Anak, Penerapan Disiplin Positif Dalam Mendukung Implementasi  Sekolah Ramah Anak, dan lain sebagainya.

“Jika berbicara tentang pola asuh atau perlindungan pada anak, utamanya terhadap anak-anak usia SMP dan SMA, tentu masih banyak PR yang harus kita kerjakan. Bahwa, sekarang ini anak-anak kita sedang di intimidasi oleh hal-hal yang dapat menjerumuskan mereka kepada sesuatu yang negatif,” ungkap Saelany.

Pihaknya berpesan agar seluruh unsur masyarakat di Kota Pekalongan menyamakan persepsi dan niat dalam membenahi sistem pendidikan maupun pola pembinaan terhadap siswa. Unsur tersebut ialah keluarga, lingkungan, sekolah, komite dan pemerintah. Keterlibatan mereka sedikit banyak akan mempengaruhi karakter pribadi anak sehingga perlu kerja sama dari seluruh unsur demi terciptanya generasi millenial yang unggul, santun, cerdas dan berkualitas di Kota Pekalongan.

Walikota Pekalongan juga menyampaikan kekhawatirannya akan dampak negatif game online. “Waktu untuk belajar dan membantu orang tua sehabis jam sekolah akan hilang. Waktu pola makan akan terganggu, emosional siswa juga akan terganggu karena efek game ini. Uang jajan bisa digunakan untuk membeli kartu perdana yang akses internetnya lebih cepat. Dan yang lebih parah, mereka bisa jadi kecanduan dengan game online yang dapat mempengaruhi otak dan psikologi mereka,” tuturnya.

Sekolah Ramah Anak menjadi media untuk mewujudkan pemenuhan hak dan perlindungan anak selama berada di sekolah. Pemenuhan tersebut bisa berupa sekolah bersih, aman, ramah, indah, inklusif, sehat, asri, dan nyaman. Terlebih mengutamakan prinsip non diskriminasi kepentingan, hak hidup, dan penghargaan terhadap hak anak. Lewat SRA ini pula Kota Layak Anak akan terwujud.

Lindungi Anak Dari Game Online

Kehadiran game online baru-baru ini menuai pro dan kontra terlebih saat ditemukannya kasus anak kecanduan game online hingga lupa waktu dan akhirnya meninggal. Mantan Menteri Kominfo, Rudiantara menilai industri game online di Indonesia saat ini cukup pesat bahkan sampai ada yang menjadikannya sebagai profesi. Terlebih dibukanya cabang olahraga esport pada Asean Games 2018 kemarin. Pihaknya meminta orang tua agar selalu memperhatikan anaknya dalam bermain game.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar pemerintah menyediakan game edukatif untuk anak baik online maupun offline. Selain itu pihaknya juga meminta agar game yang tersedia bebas dari unsur minuman keras, narkoba, kekerasan, seksual, judi, sadisme, dan horor. Pihaknya menilai hingga saat ini sulit sekali menemukan game yang sesuai dengan tumbuh kembang anak.

Sementara itu, Muhammad Nur Awaludin atau yang akrab disapa Kak Mumu menjelaskan mengenai cara terbebas dari kecanduan game online. Menurutnya, harus dicari alasan mengapa kita melakukan pelarian ke game online. Alasan umumnya adalah bosan, kesepian atau stres. Barulah kita harus mengganti kegiatan bermain game agar sesuai dengan waktu ketika merasa bosan. Kegiatan pengganti tersebut bisa berupa olahraga, membaca buku, berdialog dengan keluarga atau teman sebaya.

Menurut Utari dalam bukunya, “”, game online dapat menimbulkan dampak sosial intelegensi, dan moral yang menyebabkan ketidak keseimbangan kondisi psikologi remaja. Maka perlu adanya peran lingkungan sosial untuk mengatasinya. Bagi orang tua, ada baiknya sering ajak anak untuk aktif berinteraksi baik dengan kita, keluarga maupun tetangga. Ajak pula anak bermain dengan melibatkan fisik sesuai usianya maupun bermain dengan teman sebaya.

Add Comment