Bedah Buku, Bupati Pekalongan: Islam Berkembang Karena Budaya

Bupati Pekalongan foto bersama dengan penulis buku Islam Berkebudayaan, Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan dan Kebangsaan, M. Jadul Maula. Sumber: Pemkab Pekalongan.

Kajen – Bupati Pekalongan, KH. Asip Kholbihi, S. H., M. Si. menjadi keynote speaker pada acara bedah buku “Islam Berkebudayaan, Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan dan Kebangsaan” karya M. Jadul Maula yang diselenggarakan di Pendopo Bupati Pekalongan, Jumat (15/11/2019) siang.

“Dalam memahami Islam harus juga memahami akar budayanya, karena sejarah dan akar tradisi Islam kita justru berkembang karena menggunakan instrumen budaya dan budaya menjadi wasilah mengembangkan Agama Islam. Termasuk wayang kulit adalah produk asli para walisongo, untuk mengembangkan Islam dengan pendekatan budaya,” kata Bupati saat menjadi keynote speaker.

Dilansir dari laman Pemkab Pekalongan, acara bedah buku ini dihadiri oleh sejumlah toko, diantaranya Wakil Rektor IAIN Pekalongan, Dr. H. Muhlisin; Kepala Kemenag, H. Kasiman Mahmud Desky, M. Ag.; Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Hj. Sumarwati, S. IP., M. AP.; Ketua Lesbumi Kabupaten Pekalongan, Gus Eko Ahmadi; perwakilan mahasiswa serta praktisi pendidikan di Kabupaten Pekalongan.

Bupati Asip juga menerangkan buku tersebut mengajak masyarakat untuk menghargai orang lain dan memandang Allah sebagai zat yang welas asih. “Agama tidak hanya dipandang sebagai ritual, kesalehan sosial, yang lebih penting menghargai keyakinan, dan menghargai budaya dan berbagai suku yang ada di Nusantara,” katanya.

Bagian awal buku ini juga mengupas hadits mengenai menuntut ilmu sampai ke Negeri Cina. Pihaknya juga menerangkan bagaimana Pekalongan menjadi penghasil batik tersebar. “Pada abad ke-6 ada hubungan antara Cina-India-Arab dan Jawa khususnya dalam hal perdagangan, terutama kain atau katun yang didatangkan dari India sehingga kita tidak kekurangan komoditas tersebut,” tutur Bupati.

Gus Eko Ahmadi selaku Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan menjelaskan hadirnya Lesbumi dalam NU, yakni untuk mengajak masyarakat memahami Islam dalam pendekatan budaya sehingga bisa menilai perbedaan dengan lebih bijak. Pihaknya menilai pola pikir generasi millenial saat ini sudah jauh berbeda dengan zaman dahulu. Menurutnya, orang dulu ketika ada isu yang dilontarkan pimpinannya akan mereka bahas dalam diskusi kelompok.

“Sekarang jika ada isu yang ramai adalah meme dan menggoreng isu tersebut, sehingga kita hanya ribut di meme dan gorengan,” katanya.

Islam dan Budaya

Menurut Ahmad Fuad Effendy, meski agama dan budaya berasal dari sumber yang berbeda namun bukan berarti keduanya saling terpisahkan. “Melalui agama, yang dibawa oleh para nabi dan rasul, Allah Sang Pencipta menyampaikan ajaran-ajaran-Nya mengenai hakekat Allah, manusia, alam semesta dan hakekat kehidupan yang harus dijalani oleh manusia. Ajaran-ajaran Allah, yang disebut agama itu, mewarnai corak budaya yang dihasilkan oleh manusia-manusia yang memeluknya,” kata Fuad Effendy.

Islam di Indonesia sendiri merupakan hasil dari proses dakwah secara kultural. Selalu hangat dalam ingatan umat muslim di Indonesia bagaimana Sunan Kalijaga menyebarkan Islam, ia menggunakan wayang kulit. Walisongo lainnya juga menggunakan budaya tempat syiarnya untuk menyebarkan ajaran yang anutnya.

Presiden ke-7 sekaligus kiai dan tokoh pluralitas Indonesia sebenarnya telah menciptakan istilah Islam Indonesia pada tahun 1987an.  Lahirnya istilah tersebut lantaran adanya kecenderungan Arabisasi di sebagian gerakan Islam sehingga untuk mengimbanginya, Gus Dur melontarkan istilah tersebut.

Pada laman gusdurian dijelaskan bahwa Gus Dur meminta kita untuk tidak khawatir mengenai Islam dan budaya. Sebab menurutnya, agama dan budaya sebenarnya saling membutuhkan, hubungannya seperti filsafat dan ilmu pengetahuan.

“Filsafat bukan ilmu pengetahuan, namun filsafat membutuhkan ilmu sebagai media korektif untuk memvalidasi idealitas normatif kepada realitas empirik. Capaian ideal yang hendak diraih filsafat harus  dikontekskan pada realitas empirik yang telah dirumuskan oleh sains. Dengan sebaliknya, Sains sebagai disiplin keilmuan pasti, membutuhkan filsafat untuk merefleksikan dasar bangunan ontologis, epistemologis, dan etis, agar sains tidak membatu dalam kekerasan epistemik yang tanpa kritik,” tulis Syaiful Arif dalam buku Islam, Pancasila, dan Deradikalisasi.

Add Comment