Gunakan Pewarna Alami Untuk Kurangi Pencemaran Lingkungan

Penanaman pohon untuk pewarna alami batik. Sumber: Humas Pemkab Pekalongan.

Wiradesa – Pemkab Pekalongan barenng PT. Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) meluncurkan aplikasi Monik, Jum’at kemarin (18/10/2019) di Rumah Batik Wiradesa. Aplikasi Monik merupakan aplikasi kesehatan untuk masyarakat Kabupaten Pekalongan.

Aplikasi tersebut merupakan pengembangan dari Program Mobil Klinik, dimana nantinya bertujuan untuk bisa mendata pasien beserta riwayat kesehatannya. “Ini langkah mulia dari Tower Bersama Infrastructur Grup Indonesia (TbIG) yang sudah berkolaborasi bersama Pemkab Pekalongan cukup lama.Pada hari ini kami melaunching aplikasi Monik berkaitan dengan kesehatan. Aplikasi ini memudahkan pelayanan kesehatan yang offlinennya sudah berjalan lama, sekarang ditingkatkan ke online,” terang Bupati Asip Kholbihi.

Dilansir dari web Pemkab Pekalongan, dipaparkan bahwa pada hari yang sama dilaksanakan juga penanaman pohon yang berguna untuk pewarna alami Batik. Hal tersebut dikarenakan rumah singgah ini menggunakan pewarna alami.

“Nanti kita akan melakukan gerakan masyarakat agar menanam tanaman yang bisa didayagunakan untuk pewarna alam.”, tambah Asip.

Menurutnya, dengan adanya penanaman tersebut bisa menciptakan lingkungan yang bersih dan lebih bisa meningkatkan pendapatan warga sekitar.

“Harapannya masyarakat juga bisa mengembangkan tanaman yang bermanfaat untuk pewarna alami batik. Di Kabupaten Pekalongan ini banyak masyarakat yang usahanya membatik, selain itu bisa ada produk inovatif yang baru menggunakan pewarna alami,” kata Lie Sie An selaku managemen TBIG..

Mikroba Untuk Mengurangi Limbah Batik

Batik adalah salah satu warisan Indonesia yang mendunia, yang kemudian oleh UNESCO diakui sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2009. Dengan adanya pengakuan tersebut tentunya membuat batik semakin dicari orang. Semakin banyak dicari orang maka semakin banyak sungai yang tercemar pewarna batik.

“Di Pekalongan limbah batik mempunyai dua makna. Pertama, pertanda masyarakat sejahtera dan kedua limbah yang merusak lingkungan, ” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain.

Dilansir dari laman resminya, LIPI sendiri telah melakukan riset untuk penanggulangi pencemaran sungai karena limbah batik. “Buangan limbah tekstil dari industri umumnya mengandung senyawaan berwarna dan toksik dengan karakteristik pH dan salinitas yang lebar.”, ujar peneliti LIPI, Dede Heri Yuli Yanto.

Ia pun menemukan mikroba yang bisa bertahan terhadap pH dan salinitas yang lebar. “Mikroba tertentu yang ditempatkan di dalam bioreactor kemudian limbah pewarna tekstil kemudian dialirkan ke dalam bioreactor tersebut dengan laju alir tertentu sehingga hanya dalam hitungan jam pewarna tertentu sudah dapat terdegradasi secara sempurna. Hasilnya tentu sudah menjadi senyawa yang tidak toksik lagi.”, imbuhnya.

Add Comment